.feed-links{display:none;}

Minggu, 29 Maret 2015

Teori Evolusi Benar Adanya?





Evolusi, siapa yang tidak tahu dengan satu kata tersebut. Ya, Evolusi merupakan sebuah teori yang dikemukakan oleh seorang revolusioner yang juga seorang ahli sejarah alam bernama Charles Robert Darwin sekitar 150 tahun silam. Akan tetapi, sampai sekarang teori tersebut masih di pertanyakan benar adanya. Lagipula teori tersebut masih di pertentangkan oleh para ahli sejarahwan. Menurut darwin makhluk hidup itu berasal dari zat mati yang bergabung secara kebetulan dan membentuk makhluk hidup pertama. teori ini bukanlah hukum ilmiah maupun fakta yang sudah terbukti kebenarannya. Semua yang dikemukakan darwin ini nyatanya tidak berdasarkan bukti dan temuan ilmiah. Tapi, karena pada masa itu, sarana dan prasana teknologi masih sangat keterbelakang menyebabkan segala hal tentang evolusi belum diketahui benar adanya. Jadi ketika beliau menyatakan teorinya banyak yang menyetujui dan meyakini apa yang di kemukakannya, terutama kaum materialis. kaum materialis mencoba terus memaksakan teori evolusi yang berisi dusta bahwa manusia tidak diciptakan, tetapi muncul atas faktor kebetulan dan berevolusi dari jenis binatang – serta, dengan segala cara, berupaya mempertahankan teori evolusi agar tetap hidup. Kaum materialis meninggalkan akal sehat dan nalar, serta mempertahankan omong-kosong ini di setiap kesempatan, walaupun bukti ilmiah dengan jelas telah menghancurkan teori evolusi dan menegaskan fakta kebenaran tentang penciptaan. Ya, Kini, berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti paleontologi, genetika, biokimia dan biologi molekuler telah membuktikan bahwa tak mungkin makhluk hidup tercipta akibat kebetulan atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Sel hidup adalah struktur paling kompleks yang pernah ditemukan manusia. Ilmu pengetahuan modern mengungkapkan bahwa satu sel hidup saja memiliki struktur dan berbagai sistem rumit dan saling terkait, yang jauh lebih kompleks daripada sebuah kota besar. Struktur kompleks seperti ini hanya dapat berfungsi apabila masing-masing bagian penyusunnya muncul secara bersamaan dan dalam keadaan sudah berfungsi sepenuhnya, jika tidak, struktur tersebut justru tidak akan berguna, dan semakin lama akan rusak dan musnah. Tak mungkin semua bagian penyusun sel itu berkembang secara kebetulan dalam jutaan tahun, seperti pernyataan teori evolusi. Oleh sebab itulah, rancangan yang begitu kompleks dari sebuah sel saja, sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan makhluk hidup. Salah satu temuan utama yang juga meruntuhkan teori evolusi adalah catatan fosil. 
Fosil adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen. Setelah kematian suatu mahluk hidup, sebuah fosil akan muncul lewat pengawetan bagian-bagian keras yang tersisa, seperti tulang, gigi, cangkang, atau kuku. Fosil secara umum dianggap sebagai bagian satu tumbuhan atau binatang dalam keadaan membatu. Akan tetapi, fosil tidak muncul hanya lewat pembatuan. Sebagian selamat hingga hari ini tanpa cacat atau pembusukan struktur tubuh, seperti mamot yang membeku di dalam es atau serangga serta spesies reptil dan invertebrata kecil yang terawetkan dalam damar. Ketika mahluk hidup mati, jaringan-jaringan lunak yang membentuk otot-otot dan organ-organnya segera mulai membusuk karena pengaruh bakteri dan keadaan lingkungan. (Pada kejadian yang sangat jarang, seperti suhu dingin di bawah titik beku air atau panas kering gurun pasir, pembusukan tidak terjadi. ) Bagian-bagian organisme yang lebih tahan, biasanya yang mengandung mineral seperti tulang dan gigi, dapat bertahan untuk masa yang lebih lama, memungkinkan bagian-bagian itu untuk mengalami beraneka proses fisika dan kimia. Proses-proses itu membuat pemfosilan terjadi. Karena itu, sebagian besar bagian tubuh yang memfosil adalah tulang dan gigi vertebrata, cangkang brakiopoda dan moluska, rangka luar krustasea tertentu dan trilobit, garis luar organisme mirip karang, dan spons serta bagian-bagian berkayu tetumbuhan.

Ada juga fosil yang berasal dari batu ambar. Jadi, di dalam batu tersebut terdapat mahkluk hidup yang terjebak karena getah yang keluar dari pohon. Dari waktu ke waktu getah tersebut mengeras sehingga menjadi sebuah batu yang kita sebut batu ambar. Makhluk hidup tersebut tidak akan mengalami perubahan sedikit pun karena langsung terputus dari sentuhan atmosfer di sekelilingnya sehingga tubuhnya tersebut akan tetap ada secara keseluruhan. Biasanya yang terdapat dalam batu amber adalah jenis serangga. Salah satu contohnya adalah batu ambar baltik yang berisi nyamuk dan lalat di bawah ini yang diperkirakan berumur 40 dan 60 juta tahun.

Fosil – fosil yang kita lihat sama persis apa adanya dengan hewan yang masih hidup sampai sekarang ini. Seperti fosil capung di atas, dari segi struktur tulang maupun bentuknya sama persis dengan capung yang hidup saat ini. hal ini menjadi kekalahan telak bagi teori evolusi. Dari seluruh fosil yang telah ditemukan selama ini, tidak ada satu pun bentuk peralihan (perantara) yang ditemukan, yang seharusnya ada jika makhluk hidup berevolusi tahap demi tahap dari spesies yang sederhana menjadi spesies yang lebih kompleks, seperti yang dinyatakan oleh teori evolusi. Jika makhluk seperti itu ada, seharusnya jumlahnya banyak sekali, berjuta-juta, bahkan bermiliar-miliar. Lebih dari itu, sisa dan kerangka makhluk semacam itu haruslah ada dalam catatan fosil. Kalau bentuk-bentuk antara ini benar-benar ada, jumlahnya akan melebihi jumlah spesies binatang yang kita kenal di masa kini. Seluruh dunia akan penuh dengan fosil makhluk tersebut. Para evolusionis berusaha mencari bentuk-bentuk antara ini di semua penelitian fosil yang menggebu-gebu, yang telah dilangsungkan sejak abad kesembilan belas. Akan tetapi, sama sekali tidak ditemukan jejak-jejak makhluk perantara ini, meskipun pencarian telah dilakukan dengan penuh semangat selama 150 tahun. Singkat kata, catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul secara tiba-tiba dan dalam wujud sempurna, bukan melalui sebuah proses dari bentuk primitif menuju tahap yang lebih maju, seperti yang dinyatakan teori evolusi. Kaum evolusionis telah berusaha keras untuk membuktikan kebenaran teori mereka. Namun nyatanya, dengan tangannya sendiri, mereka justru telah membuktikan bahwa proses evolusi adalah mustahil. Kesimpulannya, ilmu pengetahuan modern mengungkapkan fakta yang tak mungkin disangkal berikut ini: Kemunculan makhluk hidup bukanlah akibat faktor kebetulan yang buta, melainkan hasil ciptaan Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut